Oleh : Laurensius Sarogdok
1.1.Pandangan
tentang Nenek moyang Mentawai
Menurut para peneliti dari ilmu
antropologi menyatakan bahwa orang
Mentawai berasal dari Nias dan Batak
(Dr. Oudemans). Dan ada juga yang berpendapat bahwa nenek moyang orang Mentawai
berasal dari bangsa Mongolia.
Selain di atas ada juga yang menyatakan
bahwa secara keseluruhan nenek moyang orang Indonesia termasuk Mentawai berasal
dari Proto Melayu (nenek moyang tertua). Dari sekian pendapat para pakar
antropologi, baik dari mancan Negara maupun domistik, orang Mentawai terutama
para generasinya dibingungkan dengan segala teori-teori yang tidak jelas dan
tidak masuk akal. Orang Mentawai memiliki sendiri pengetahuan tentang asal
kedatangan nenek moyang mereka. Walaupun melelui budaya tutur, namun para orang
tua memilikinya secara turun-temurun dan abadi dalam ingatan.
Semakin banyak orang melakukan penelitian, semakin juga orang Mentawai dibuat
bingung, seakan-akan kebudayaan mereka yang secara turun-temurun tidak dihargai
dengan menciptakan berbagai pameo kedatangan nenek moyang mereka.
Pada dasarnya sejarah yang sulit
diungkap oleh berbagai pihak adalah sejarah kehidupan orang Mentawai sejak
dahulu. Hal ini disebabkan karena orang Mentawai tidak memiliki bukti yang
jelas, seperti tulisan. Namun secara ilmiah yang masuk akal asal nenek moyang
orang Mentawai itu adalah dari Sikebbukat Siburu’ (nenek moyang dahulu). Hal
ini bisa saja disebut Proto Malayu. Karena Proto Melayu tersebar dimana-mana
termasuk Indonesia. Kebudayaan pada zaman tua masih dibawah sampai sekarang,
salah satunya adalah budaya seni rajam yaitu membuat gambar-gambar ditubuh.
Menurut para ahli antropologi jika diperhatikan bahasa dan
kebudayaan orang Mentawai, nenek moyang orang Mentawai berasal dari Homo Sapiens yang paling awal datang ke
Indonesia. Homo Sapiens berasal dari zaman Alluvium berlangsung kira-kira
20.000 tahun sampai sekarang.
Orang Siberut digolongkan ke dalam rumpun Proto Malayu (Suzuki) yang mempunyai
kebudayaan neolitik dengan sedikit dipengaruhi zaman batu dan belum dipengaruhi
zaman perunggu, Budhisme, Indhuisme maupun Islam. Proto Malayu merupakan nenek
moyang tertua dibanding dengan deutero melayu. Nenek moyang dari deutero malayu
adalah suku Jawa, Minangkabau, Bali, dan Bugis, Makasar dan Sunda.
Orang Mentawai termasuk suku bangsa subras Veddoid yaitu ras
khusus yang tidak dapat diklasifikasikan. Selain orang Mentawai ada juga suku
Kubu, Tomuna, Toala dan Suku Gayo. Baik
kebudayaan ataupun adat-istiadat mereka bersifat tradisional. Kehidupan mereka
tergantung pada sumber daya alam yang mereka memiliki dari temuan nenek moyang
mereka.
Orang Mentawai termasuk dalam golongan suku bangsa Melayu
dengan ciri fisik berkulit sawo matang. Melayu adalah campuran dari suku
Dravida yang berkulit hitam, ras mongoloid yang berkulit kuning, dan Aria yang
berkulit putih.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut, orang mentawai termasuk dalam kelompok ras
melayu.
Suku bangsa Melayu diperkirakan datang ke Indonesia pada
tahun 1500 – 2500 SM. Kedatangan mereka melalui dua jalur. Pertama melalui
semenanjung Melayu, kemudian menuju Sumatera, Kalimantan, Jawa dan sekitarnya.
Kedua melalui Filipina kemudian menuju Sulawesi. Mereka ini dari daratan Asia.
Ciri khas suku bangsa Melayu dapat dilihat dari tiga hal
yaitu adat istiadat, bahasa, dan agama. Adat istiadat suku bangsa Melayu
mempunyai kekhasan tersendiri, yaitu keramahan dan keterbukaan. Kedua sifat ini
menyebabkan adat istiadat suku bangsa Melayu mampu menerima perbedaan-perbedaan
yang ada disekitarnya, sehingga dengan mudah dapat membaurkan diri dengan orang
lain atau masyarakat lain yang mempunyai adat istiadat yang berbeda dengan
mereka.
Pada sekitar tahun 500 SM, datang lagi gelombang migrasi
penduduk dari ras Melayu Austronesia dari teluk Tonkin. Mereka ini disebut
Deutero Melayu. Membawa kebudayaan perunggu yang dikenal dengan sebutan kebudayaan
Dong Son. Namun
kedatangan Deutero Melayu ini tidak mempengaruhi kebudayaan orang Mentawai.
Suku Mentawai tidak mengenal perenggu, besi dan emas. Hal ini telihat dari
assesoris kebudayaan yang dimiliki. Nenek moyang orang Mentawai seperti yang disampaikan
di atas lebih sedikit dipengaruhi oleh zaman batu. Ini terbukti adanya batu
untuk menghidupkan api dengan cara mengadukan atau menggesekkan dua batu
sehingga menimbulkan percikan api. Makanya nenek moyang Mentawai ini dari zaman
neolitik yang dipengaruhi oleh zaman batu, tetapi jauh dari zaman perunggu.
Orang Mentawai mengenal besi atau logam hanya pada zaman penjajahan Belanda.
Orang Belanda mengenal kepulauan Mentawai kira-kira pada tahun 1700 – 1842.
Ketangan Belanda di Indonesia pada tahun 1596. Bangsa Belanda berkuasa di
Indonesia 350 tahun, namun di Mentawai bangsa Belanda tidak tertarik untuk
menjajahnya. Mereka justru menyukai kebudayaan yang dimiliki oleh orang
Mentawai. Mereka datang ke Mentawai hanya untuk mempelajari kebudayaan Mentawai
walaupun mereka itu dari latar belakang militer. Artinya bahwa nenek moyang
orang Mentawai yang pertama datang ke
Mentawai dibanding bangsa Belanda menjajah Indonesia. Dari interaksi antara
suku Mentawai dengan Belanda sangat baik. Sehingga Belanda mau memperkenalkan
benda-benda besi, logam untuk dimiliki oleh orang Mentawai. Salah satunya
adalah seperti gong (ngong) yang terbuat dari besi kuningan. Bangsa Belanda
membawa gong dari daerah Jawa, karena orang Belanda juga sangat cinta dengan
kesenian. Maka gong ini diberikan kepada nenek moyang Mentawai sebagai ganti
tempat tinggal yang ditempati.
1.2.Periode Kedatangan Nenek moyang
Mentawai
Menurut hasil interview dengan orang tua
di daerah Sarereiket Pulau Siberut serta bukti-bukti analisis kedatangan nenek
moyang bangsa Indonesia, bahwa
kedatangan nenek moyang Mentawai dan suku lain di Pulau Siberut ada tiga
periode, yaitu :
1.
Nenek moyang Proto Melayu (Sikebbukat
Suburu’)
Secara Ilmiah atau
ilmu pengetahuan yang ditulis para pakar antropologi dan sejarahwan bahwa pada
zaman Pleistocene 10.000 tahun yang silam, ketika masa Es permukaan laut di
daerah Asia Tenggara naik 200 m. Semua daerah di Asia dinaiki oleh laut
sehingga para penghuni Asia menyelamatkan diri dengan cara mencari pulau-pulau
yang lebih tinggi. Suku di Asia tersebut digolongkan dalam rumpun Proto Melayu
yang memiliki kebudayaan neolitik. Suku bangsa ini berasal dari Homo Sapiens
yang melebar diseluruh dunia termasuk Indonesia dan kepulauan daratan Sumatera
termasuk Mentawai (Pulau Siberut dan Nias). Homo Sapiens ini paling awal datang
ke Indonesia.
Pada
masa penyebaran, Proto Melayu tidak serta-merta datang ke Pulau Siberut. Mereka
pertama kali singgah di kepulauan Nias dan berkembang disana. Kepulauan
Mentawai tidak mereka ketahui dimana posisinya. Setelah lama bermukim di
kepulauan Nias, dilakukan penyebaran kembali dan menemukan pulau Siberut. Dari
Kepulauan Batu nenek moyang menyeberang lautan hingga sampai di Pulau Siberut.
Ini pada zaman neolitik yang dipengaruhi sedikit zaman batu. Bukti yang
dimiliki adalah adanya batu pembuat api
yang disebut tatai’tai’ yang pernah dibawa pada zaman batu sampai neolitik.
Nenek moyang ini
datang dan singgah di Pantai Simalegi. Kehidupan mereka
berburuh ikan di laut. Mereka hidup dan
berkembang di daerah tersebut dan kemudian perlahan-lahan memasuki hutan untuk
membuka lahan. Teori ini sangat masuk akal dengan penjelasan para orang tua di
Siberut yang berhubungan dengan kedatangan Sikebbukat Siburu’ di Pulau siberut.
Nenek moyang orang
Mentawai dahulu memiliki kesaktian yang luar biasa.
Alam bisa ditundukkan dan bergaul dengan lingkungan alam tanpa merusak. Saat
itu mereka memahami konsep bahwa alam merupakan kehidupan sepanjang masa. Alam
memiliki kekuatan yang dasyat dan harus bersahabat (paalei) dengan alam (leleu,
seksek, koat, loinak, pauma’uma’, paguruigurui).
2.
Imigran dari Nias
Setelah
beberapa tahun lamanya, maka datanglah
orang Nias ke Pulau Siberut mencari tempat yang aman. Kedatangan mereka ada
yang sampai di Muara Simatalu dan ada yang singgah di Pantai Simalegi. Orang
Nias ini disebut dalam bahasa Mentawai adalah Sabaigua. Artinya setengah manusia dan setengah hantu. Mereka suka
memakan daging mayat manusia. Dahulu jika ada orang yang meninggal, tidak
dikubur melainkan dibuat tempatnya dan digantung di atas dengan ditopang empat
potong kayu.
Orang
NIas kemudian menetap di Mentawai.
Mereka tidak berani berjalan di jalan setapak atau daerah terbuka. Mereka hanya
berjalan di dalam sungai dengan memakai tutup kepala daun keladi. Keturunan
Nias ini atau Sabaigua sampai
sekarang masih ada di Siberut dengan memakai nama nenek moyang mereka Sabaiguana.
3.
Kedatangan penjajah Belanda
Selama
350 tahun bangsa Belanda menduduki Indonesia, tetapi hanya tiga tahun saja
mereka mengenal Kepulauan Mentawai. Tentara Belanda datang ke Mentawai melalui
kapal-kapal dagang yang ditumpangi tidak menjajah, melainkan mempelajari
kebudayaan suku Mentawai. Mereka tidak melakukan intimidasi terhadap penduduk
setempat.
Pada saat Belanda memasuki Mentawai mereka
lebih dominan tinggal di daerah pesisir. Mereka
membawa tahanan yang disebut Sararattei,
yang artinya tahanan yang dirantai atau budak yang dirantai. Ada tahanan yang
berasal dari Nias, Jawa, Batak, Makasar yang dibawa oleh Belanda sebagai porter dan mereka berhasil melarikan
diri pergi bersembunyi dan meminta
perlindungan kepada orang Mentawai dan menikahi orang Mentawai. Maka keturunan
mereka menjadi berkembang dalam suku Mentawai yang akhirnya menjadi keturunan
perempuan walaupun mereka memakai suku Mentawai.
4.
Kedatangan
Bangsa Jepang
Tentara
Jepang datang ke Mentawai pada tahun 1942. Mereka melakukan penjajahan di
Mentawai dengan cara memperbudak penduduk untuk mendatarkan bukit-bukit dan
membuat lubang tempat persembunyian. Ada banyak bukti sejarah yang ditinggalkan
oleh tentara Jepang di Pulau Siberut, seperti benteng kecil, lubang, dan bukit
di pastoral Siberut Selatan yang pernah didatarkan oleh para pekerja paksa.
Berdasarkan sejarah bangsa Indonesia bahwa bangsa Jepang menyerah ketika
Hiroshima dan Nagasakhi di bom oleh tentara sekutu. Kondisi menyerahnya tentara
Jepang di Mentawai, terutama di Muara Siberut Selatan adalah kira-kira pukul
10.00 wib terdengar suara pesawat tempur di udara. Semua pekerja paksa
berlarian untuk sembunyi karena menyangka akan terjadi perang antara TNI dan
tentara Jepang. Dari pesawat itu ditebarkan banyak lembar kertas yang
bertuliskan, “moerdeka! Kita Soedah Moerdeka!”. Saat itu ada seorang mandor
dari penduduk pribumi yang bernama Marueian yang menterjemahkan bahasa
Indonesia ke bahasa Mentawai kepada semua pekerja paksa dengan kata “bajak!
Alepa’an atapasaggak! Amamanangan ita!”. Akhirnya semua pekerja langsung
mengangkat tangan keatas dengan bersorak,”moerdeka!”. Tiba-tiba semua tentara
Jepang menyerah sambil meletakkan senjata di tanah. Di laut sudah Nampak kapal
perang Indonesia yang berisi tentara nasional dan tentara sekutu untuk melucuti
tentara Jepang.
Tetapi Jepang tidak meninggalkan pelanggaran moral di Mentawai sehingga sampai
saat ini tidak ada keturunan Jepang di Mentawai.
5.
Kedatangan suku Minangkabau
Kedatangan
suku Minangkabau masih dikategorikan baru. Diperkirakan pada tahun 1900-an.
Namun tidak terlalu signifikan terjadi pengaruh kebudayaan Mentawai saat itu. Tetapi karena kepulauan Mentawai
dimasukkan ke dalam administrasi pemerintahan Padang Pariaman Sumatera Barat
tahun 70-an, maka mulailah pengaruh kebudayaan Minangkabau merambat ke dalam
kebudayaan Mentawai, seperti bahasa, agama dan assesoris pernikahan. Ini
terjadi di daerah-daerah kecamatan. Suku Minangkabau lebih suka tinggal di
pinggir pantai. Karena berdasarkan pengalaman merantau bahwa pantai merupakan
pusat transportasi sehingga tidak sulit melakukan interaksi dengan dunia luar
dan melakukan perdagangan.
Kedatangan
nenek moyang orang Mentawai tidak membawa kebudayaan tulisan atau kode-kode
yang bersifat sandi. Hal ini membuktikan
bahwa nenek moyang orang Mentawai berasal dari zaman neolitik yang dipengaruhi
sedikit zaman batu. Sehingga sampai sekarang pun kita tidak bisa membuktikan
adanya silsilah keturunan yang bersifat tulisan atau kata-kata sandi.
Kebudayaan yang dibawa oleh nenek moyang adalah berburuh, hidup
berpindah-pindah dan tato yang merupakan bentuk seni di tubuh yang unik dan
mahal harganya bagi orang Mentawai.
1.3.Marga
pertama dan penyebaran Orang Mentawai
Sejak kedatangan nenek moyang
pertama di Mentawai, mereka tidak memulai kehidupan di hutan, melainkan di tepi
pantai. Memang lama mereka hidup di pesisir pantai. Setelah mereka mulai
berkembang, akhirnya mereka menyadari bahwa tidak cukup untuk hidup di Pantai,
mereka pun mulai menuju perbukitan dan hutan belantara. Di hutan mereka mulai
membuka lahan dan menanam pisang hutan. Mereka juga berburuh untuk kebutuhan
sehari-hari. Semakin lama, mereka semakin berkembang dan mulai memikirkan nama
kelompok mereka. Seperti yang dituturkan oleh para orang tua di kampung Rokdok Sarereiket
Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan, bahwa nama marga pertama adalah
Sagou’gou’. Menurut Bakli Samanggeak( tokoh adat) Dusun Ugai Desa Madobag,
bahwa munculnya marga Sagou’gou’ adalah, ketika dua orang bersaudara (nenek
moyang orang Mentawai) yang bernama Lagonan dan Kutkut Dere sedang melakukan
pesta. Silagona menyembelih babi setelah
itu pisau sembelih dibuang di bawah rumah, maka disuruh adiknya Sikutkut Dere
untuk mengambil pisau tersebut. Setelah adiknya pergi ke bawah rumah untuk
mengambil pisau sembelih yang dibuang oleh Silagona, tiba-tiba dari atas rumah
Silagona menumpahkan darah babi di badan adiknya yang sedang di bawah rumah.
Semua badan Sikutkut Dere berdarah dan akhirnya ia dikejar oleh anjing. Karena
takut digigit anjing akhirnya ia lari terbirit-birit hingga sampai di rumah
tante mereka. Karena kasihan, tante mereka itu memberikan lima telur ayam
sebagai pelempar anjing. Setelah itu ia lari lagi sambil dikejar seekor anjing.
Maka telur yang ada ditangannya digunakan sebagai pelempar anjing hingga sisa
dua butir. Akhirnya ia sampai di tepi sungai. Dua butir telur tersebut
diletakkan di pangkal kayu, kemudian ia pergi mandi untuk mebersihkan badannya
yang berlumuran darah babi. Sedang mandi, ia mendengar suara perempuan berbicara
satu dengan yang lain. Ia pun keluar dari sungai dan melihat ada dua orang
wanita cantik sedang tersenyum kepadanya.
Akhirnya dua wanita yang berasal
dari telur itu dijadikan istrinya. Maka banyaklah keturunannya dan mereka pun
berkembang. Keturunan ini disebut marga Sagou’gou’, yang artinya berasal dari
ayam.
Secara garis besarnya dasar
penyebaran nenek moyang orang Mentawai ada dua, yaitu ; pertama masalah buah ambacan hutan (Sipeu) dan kedua masalah babi hutan pingsan dan lepas kembali (Sibela siberi).
Banyak orang menyatakan bahwa penyebaran orang mentawai didasari atas perluasan
wilayah atau mencari lahan baru. Kalau yang ini jelas tahap kedua, tetapi yang
jelas terlebih dahulu timbul masalah sehingga terjadi perpecahan marga atau
keluarga dan meninggalkan keluarga induk pergi kewilayah lain. Di wilayah yang
ditemukan memulai kehidupan baru dengan melakukan pemetaan wilayah dengan cara
member batas-batas wilayah atau tanah.
Masalah Sipeu terjadi ketika
sebatang pohon ambacan hutan berbuah dan mulai matang, para kaum laki-laki
membuat kandang kecil di bawah pohon ambacan sebagai tempat posisi jatuhnya
buah ambacan (Sipeu). Jika buah ambacan jatuh ke dalam kandangnya, maka buah
ambacan tersebut menjadi miliknya. Namun ada buah ambacan yang diganti dan dimasukkan
buah yang kecil. Sedangkan jejak jatuhnya yang diganti itu besar. Ketika
sipemilik kandang datang melihat kandangnya, ia marah dan mencaci maki semua
orang yang memiliki kandang-kandang kecil dibawah pohon ambacan. Maka dari situ
mereka berpisah dan mencari tempat lain.
Kemudian masalah babi hutan lepas.
Saat musim buah laggurek babi hutan memakan buahnya yang jatuh di bawah. Karena
buah laggurek ini beracun, akhirnya lima ekor babi itu pingsan. Salah seorang
nenek moyang orang Mentawai tiba di pangkal
laggurek dan melihat babi hutan sudah mati. Ia tidak mengetahui kalau
babi hutan itu hanya pingsan akibat memakan buah laggurek. Ia pun pergi
memanggil semua kaumnya untuk membantu mengangkat babi yang pingsan. Namun
hujan pun turun. Dibelakngnya semua babi hutan itu siuman kembali dari pingsan
dan lari. Nenek moyang orang Mentawai ini telah kembali dan membawa semua
kaummnya. Namun setelah sampai di pangkal laggurek mereka melihat tidak ada
lagi babi di sana. Para kaumnya pun marah dan kecewa dan memanggil dia dengan
nama sebutan Sibela Siberi. Karena ia tidak suka nama itu, ia menganggap suatu
penghinaan akhirnya ia pergi meninggalkan klennya.
Berdasarkan di atas bahwa sistem
penyebaran marga atau klen di Mentawai di mulai dari pertikaian kecil dan
perluasan wilayah. Ketika terjadi pertikaian maka mereka akan pergi
meninggalkan suku induk dan membentuk kelompok lagi dengan memakai marga baru.
Demikian juga dengan perluasan wilayah. Mereka mencari lahan untuk berladang
dengan cara menjelajah hutan belantara. Jika sudah ada jejak orang lain atau
marga lain, mereka akan beralih kewilayah lain. Tanah atau wilayah yang
ditemukan akan diberi tanda batas. Tanda-tanda tersebut berupa bukit, ujung
bukit, sungai dan pohon. Jadi dimana mereka berada atau tinggal, jika ada
sungai maka mereka akan membentuk kelompok dan memakai nama marga sama dengan
nama sungai atau kondisi lain yang bisa dianggap cocok untuk nama marga.
Jadi penamaan-penamaan marga ini
sangat dekat dengan alam disekeliling mereka. Seperti sungai, bukit, tanah,
kayu, benda-benda lain dan keadaan yang dirasakan.
1.4.Jalur
Perjalanan atau Penyebaran Nenek Moyang
Jalur perjalanan nenek moyang dahulu
ada tiga, yaitu ; jalur darat, sungai
dan laut. Bagi nenek moyang yang memakai jalur darat dan sungai, menemukan wilayah perbukitan dan hutan yang
dianggap zona inti. Sedangkan perjalanan yang memakai jalur laut, menemukan wilayah bagian pesisir dan
menguasai pulau-pulau kecil. Oleh karena itu secara adat daerah bahwa bukit,
hutan, sungai, laut dan pulau di Mentawai merupakan milik orang Mentawai.
Walaupun ada Taman Nasional di Pulau Siberut yang memiliki wilayah zona inti,
tetapi wilayah tersebut merupakan tanah suku yang sejak dahulu telah ditemukan
oleh nenek moyang orang Mentawai, salah satunya suku Satoleuru. Suku ini
merupakan salah satu suku terbesar di pulau Siberut dan memiliki wilayah yang
luas di pulau Siberut, baik di Siberut Utara sampai di Siberut Selatan. Namun
wilayah ini tetap memiliki batas-batas dengan suku lain. Tetapi ada juga suku
lain yang memiliki wilayah yang luas selain suku Satoleuru.
Suku ini menyebar dari Simatalu dan
memakai tiga jalur perjalanan, yaitu darat, sungai dan laut. Ketika mereka
memakai jalur perjalanan darat mereka memakai suku Satoleuru. Kemudian mereka
juga mengelilingi lautan Pulau Siberut, akhirnya mereka memakai nama suku
Sakoan (orang laut). Selanjutnya mereka juga memakai jalur sungai hingga sampai
di hulu Sungai Sarereiket mereka berpisah mencari lahan masing-masing. Namun
suku lain seperti Satoutou selalu mengikuti perjalanan suku Satoleuru sampai
terjadi suatu persoalan Suku Satoleuru dan Suku Satoutou berpisah dibukit
Sigarena. Sedangkan bukit Sigarena merupakan milik Suku Satoleuru.
Setiap penyebaran melalui jalur laut
yang dilakukan nenek moyang Mentawai memakai kalabba’ (sampan besar yang
terbuat dari kayu besar dan motif pembuatannya kasar). Penyebaran jalur darat
dilakukan dengan jalan kaki. Sedangkan penyebaran melalui jalur Sungai memakai
o’o’ru’ (rakik) yang terbuat dari bambu.
Dalam penyebaran nenek moyang
Mentawai, terjadi pertemuan ditengah hutan dan kemudian mereka bersatu dan
mendirikan rumah sebagai tempat berkumpul untuk mendiskusikan kegiatan
selanjutnya. Jadi dalam satu rumah ada banyak suku di dalamnya yang kemudian
menjadi tippu suku (saudara suku).
1.5.Faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya kemajemukan pada suku Mentawai
Faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya kemajemukan pada suku Mentawai antara lain faktor
geografis, keberadaan perusahaan, terbentuknya kabupaten Kepulauan Mentawai dan
faktor sejarah. Berikut ini akan diuraikan mengenai kedua faktor tersebut.